Akankah Terjadi Market Crash di Pasar Saham Tahun 2023?

Florent Dubreuil
13 Menit baca
Apa itu market crash? Market crash di pasar saham adalah penurunan harga secara tiba-tiba di pasar, pada satu atau beberapa jenis aset, misalnya saham, obligasi, energi, logam, produk pertanian, mata uang, dll.

Penurunan mendadak ini terjadi umumnya dikarenakan oleh beberapa peristiwa yang menyebabkan kepanikan di kalangan investor. Dalam artikel ini, kami akan memaparkan contoh beberapa market crash yang pernah terjadi sebelumnya dan apa yang perlu dilakukan sebelum terjadinya market crash.

Beberapa investor jangka panjang telah menyaksikan kejatuhan di pasar saham secara mendadak. Stock market crash terakhir terjadi tahun 2020 berkaitan dengan awal pandemi COVID-19 dan anjloknya harga minyak. Berikut adalah hal yang akan kami bahas di sini:

Apa itu market crash pasar saham?

Apa yang dimaksud dengan market crash pasar saham? Apa itu keruntuhan pasar saham? Stock market crash adalah penurunan mendadak di harga sebagian besar sekuritas di satu atau lebih pasar keuangan dalam waktu singkat

Oleh karena itu, stock market crash merujuk kepada penurunan harga di luar dugaan secara mendadak di pasar saham setelah terjadinya peristiwa yang menyebabkan kepanikan di pasar keuangan

Kita harus membedakan antara guncangan kecil, yang merupakan penurunan harga secara cepat yang biasanya diikuti oleh kenaikan dan disebabkan oleh masalah teknis atau kesalahan manusia, dari guncangan besar, yang mempengaruhi semua pasar dan bertahan lebih lama. 

Pada artikel ini, kami terutama akan membahas tentang kasus yang kedua.

Bagaimana market crash pasar saham terbentuk?

Penurunan di pasar saham adalah hasil dari pecahnya gelembung spekulatif. Dan sebelum pecahnya gelembung ini, kita dapat mengamati beberapa perilaku berikut:

  • Pembentukan
  • Kelahiran
  • Euforia
  • Ledakan

Pembentukan

Produk inovatif muncul di pasar. Investor percaya bahwa produk tersebut memiliki potensi nyata dan dapat menghasilkan keuntungan, yang menyebabkan harga aset mengalami kenaikan.

Kelahiran

Ia menarik investor baru, yang mengantisipasi kenaikan di harga aset di masa depan dan kemudian menarik investor lainnya. Aset tersebut menembus resistensi baru, memvalidasi dan mengalami kenaikan. Beberapa investor berpikir bahwa sekarang adalah saat yang tepat untuk berinvestasi di pasar saham dengan rasa percaya diri dan mengikuti tren. Ini adalah awal dari spekulasi pasar saham.

Euforia

Investor baru telah memperkaya diri dan akan cenderung berinvestasi kembali di aset tersebut. Media memanfaatkan fenomena ini dan tetangga Anda, seorang pemula di pasar saham, menceritakan kepada Anda apa yang dilihatnya di TV dan kemudian meminta bankirnya untuk memasukkan saham tersebut dalam portofolio. Gelembung membesar, didukung olah efek ‘berkerumun’, bertindak seperti yang lain dengan membuat keputusan yang sama, secara massal.

Ketika harga mencapai level tertinggi, beberapa akan mulai melikuidasi posisi mereka dan mengembalikan keuntungan. Ini adalah akhir dari pergerakan bullish.

Ledakan

Ini adalah tren sebaliknya. Dari tren naik, aset bergerak ke tren turun. Kadang dikarenakan adanya penjualan yang berlebihan di pasar, beberapa dikarenakan statistik yang buruk, gelembung pecah dan menyebabkan penurunan harga yang tajam dan brutal.

Kepanikan muncul di kalangan investor dan muncullah volatilitas. Tidak jarang sesi berakhir di 10% lebih rendah. Gelembung spekulasi meledak dan pada saat di itulah stock market crash terjadi.

Di mana pun Anda berinvestasi, penting untuk mengetahui cara melakukan manajemen risiko dan jangan pernah berinvestasi melebihi kemampuan Anda. Dengan melakukan diversifikasi portofolio, Anda dapat mengurangi risiko ini karena Anda mengurangi eksposur terhadap masalah yang mungkin dapat mempengaruhi perusahaan.

Jika Anda seorang trader pemula, maka sebelum trading langsung di pasar keuangan, kami menyarankan Anda memulai dengan akun demo bebas risiko. Anda dapat membuka akun demo dengan Admirals sepenuhnya gratis dan trading di lingkungan trading virtual sampai Anda siap untuk membuka akun live.

Akun Demo Bebas Risiko

Daftar akun demo online gratis dan kuasai strategi trading Anda

9 market crash paling mengejutkan sepanjang sejarah 

Tahukan Anda stock market crash paling mengejutkan sepanjang sejarah? Berikut kami paparkan di bawah ini beserta alasan mengapa mereka begitu mencolok.

Market Crash paling mengejutkan dalam sejarah 
Krisis Tulip 1637
Great Depression 1929
Krisis Minyak 1973 dan 1979
Black Monday  1987
Gelembung dot-com 2000
Krisis Hipotek Subprime  2008
Krisis Utang Eropa 2011
Krisis Pasar Saham China 2015
Krisis akibat Covid-19 2020

Krisis Tulip 1637

Krisis Tulip dianggap sebagai krisis keuangan utama pertama yang pernah ada. Ia muncul di Belanda pada Februari 1637. Pada saat itu ada gelembung spekulatif di harga umbi tulip (juga dikenal dengan tulipomania), dihargai tinggi oleh kelas bangsawan.

Penjualan umbi tulip melalui kontrak berjangka dengan cepat melampaui kuantitas yang tersedia dan harga jatuh tahun 1637. Pada puncak gelembung tulip, umbi ini diharga setara dengan 20 kali gaji tahunan pegawainya.

Dampak dari market crash tulip ini memecah belah sejarawan. Beberapa mengatakan bahwa ada krisis ekonomi serius, lainnya mengatakan bahwa dampaknya hanya sedikit.

Great Depression 1929

Penurunan di pasar saham tahun 1929 kemungkinan adalah kejatuhan pasar yang paling terkenal dalam sejarah.

Keruntuhan pasar dimulai pada hari Kamis, 24 Oktober, yang dikenal dengan ‘Black Thursday’, yang menandai awal Great Depression dan krisis tahun 1929 yang pertama-tama mempengaruhi ekonomi Amerika keseluruhan dan kemudian menyebar ke seluruh dunia.

Mengapa Black Thursday terjadi? Alasan jatuhnya pasar saham pada tahun 1929 adalah bahwa sistem pembelian saham dalam bentuk kredit diperkenalkan di AS di awal tahun 1920an yang berkontribusi pada munculnya terbentuknya gelembung spekulatif.

Market crash 1929 menyebabkan pasar saham runtuh secara keseluruhan selama 3 tahun berikutnya, kemudian krisis itu menyebar ke ekonomi nyata, yang menyebabkan depresi ekonomi yang panjang dan mendalam selama tahun 1930an.

Ekonomi mulai pulih pada malam Perang Dunia II di awal tahun 1940an. Perlombaan senjata telah mendorong ekonomi dan pasar keuangan. 

Krisis Minyak 1973 dan 1979

Keruntuhan pasar saham di tahun 1973, juga dikenal sebagai krisis minyak pertama, mewakili akhir dari kejayaan tahun 1930an, 30 tahun pertumbuhan ekonomi dan tingkat lapangan kerja penuh setelah Perang Dunia II.

Keruntuhan pasar saham di tahun 1973 adalah salah satu dari beberapa yang tidak berasal dari ledakan gelembung spekulatif. Faktanya, krisis 1973 diawali dengan kenaikan tajam di harga minyak. Setelah Yom Kippur, negara-negara Arab penghasil minyak memutuskan untuk memberlakukan embargo pada sekutu Israel.

Harga minyak kemudian naik dari $3 pada Oktober 1973 menjadi $12 pada Maret 1974.

Setelah produksi mencapai puncaknya pada tahun 1971 dan ditinggalkannya perjanjian Bretton Woods, embargo tersebut semakin memperburuk pasar minyak.

Kenaikan tajam di harga minyak mencekik ekonomi dunia yang sudah memasuki resesi, meskipun akibat dari krisis minyak ini tidak mempengaruhi ekonomi dunia hingga 1978.

Guncangan pasar minyak kedua terjadi pada tahun 1979, disebabkan oleh revolusi Iran dan terhentinya ekspor minyak oleh negara itu selama empat bulan. Harga minyak naik pesat dari sekitar $17 menjadi $35, memperlambat pemulihan ekonomi global yang rapuh.

Black Monday 1987

“Black Monday" mengacu pada stock market crash yang dimulai pada hari Senin, 19 Oktober 1987, dalah satu hari terburuk sepanjang sejarah Wall Street, bersama dengan Black Thursday tahun 1929. Pada Black Monday, Dow Jones kehilangan 22.6% nilainya dalam satu sesi, yang melampaui rekor sebelumnya di tahun 1929 sebesar -12.6%. Di seluruh dunia, bursa saham Paris kehilangan 9.7%, bursa saham London turun 26% dan keruntuhan 46% di Hong Kong.

Krisis tahun 1987 ini diikuti oleh gelembung saham spekulatif, yang mengalami peningkatan hampir tanpa gangguan selama lima tahun, di bahwa mandat Ronald Reagan dan revolusi liberalnya. Titik awal stock market crash tahun 1978 juga adalah publikasi defisit dagang AS, yang terus mengalami meningkat.

Keruntuhan bursa saham Wall Street tahun 1978 merupakan pertama melibatkan sistem trading otomatis dan komputer. Robot dijual secara masal setelah dimulainya penurunan, memicu penurunan lebih lanjut di saham.

Namun, kepanikan pasar saham 1978 mengintervensi ekonomi global yang makmur, yang memungkinkan untuk menghentikan gelombang guncangan itu. Ekonomi nyata tidak banyak terpengaruh. Hal ini juga berkat reaksi cepat dan efektif dari The Fed.

Gelembung dot-com 2000

Keruntuhan pasar saham di tahun 2000, atau meledaknya gelembung dotcom, dimulai pada April 2000 dan berlangsung selama 3 tahun.

Akhir tahun 1990an merupakan periode yang sangat makmur di pasar saham, terutama setelah gelembung internet tahun 1999 dan 2000. Indeks teknologi Nasdaq mengalami peningkatan lima kali lipat dari 1998 dengan rekor tertingginya di bulan Maret 2000.

Perlambatan mulai terjadi pada April 2000 setelah IPO Wanadoo dan masalah keuangan Global Crossing, tetapi keruntuhan sebenarnya hanya dimulai segera setelahnya, menjelang akhir tahun 2000, yang kemudian dipercepat dengan penurunan di pasar saham tahun 2022, dan diperkuat oleh serangan 11 September 2001 di AS.

Stock market crash ini berakhir tahun 2003 dengan perbaikan di pasar keuangan yang dimulai bulan Maret.

Krisis Hipotek Subprime 2008

Kejatuhan pasar saham di tahun 2008 yang diikuti oleh ledakan gelembung perumahan di AS tahun 2007, yang lebih dikenal dengan krisis hipotek subprime

Pasar keuangan memulai siklus bearish pada tahun 2007.

Market crash di sektor perbankan dan kebangkrutan Lehman Brothers dimumukan pada Senin, 15 September 2008, yang mempercepat anjloknya pasar saham Wall Street tahun 2008, namun hanya pada hari Senin, 6 Oktober 2008, kehancuran besar dimulai, yang mengumumkan awal kejatuhan pasar saham tahun 2008.

Gelembung perumahan terbentuk sebagai akibat dari pemberian pinjaman tanpa jaminan kepada rumah tangga yang tidak mampu, yang mendorong permintaan. Namun, setelah kenaikan suku bunga The Fed tahun 2005, yang meningkatkan biaya pembayaran utang, jumlah default mulai meningkat tajam, mencapai 15% di tahun 2007.

Kemudian krisis perumahan dimulai dan harga secara bertahap mengalami penurunan, yang menyebabkan serangkaian kebangkrutan di institusi kredit dan dana investasi.

Krisis hipotek subprime dan retaknya keruntuhan pasar tahun 2008 menyebar cepat ke seluruh dunia, sebagian besar dikarenakan mekanisme sekuritas, sehingga pinjaman tidak ter bayarkan di AS berakhir di tangan lembaga keuangan di seluruh dunia.

Krisis keuangan tahun 2008 secara langsung dan tidak langsung berdampak pada ekonomi dunia secara keseluruhan, hampir di semua sektor.

Krisis tahun 2008 ini juga merupakan awal mula krisis utang dan runtuhnya pasar saham berikutnya tahun 201, dikarenakan upaya pembelanjaan publik yang besar yang dilakukan oleh Amerika untuk menyelamatkan perbankan dan lembaga keuangan. 

Krisis Utang Eropa 2011

Seperti krisis minyak pertama dan kedua tahun 1973 dan 1979, krisis tahun 2011 bukan merupakan hasil ledakan gelembung spekulasi. Kesulitan ekonomi dan konteks keuangan setelah krisis pasar saham tahun 2008 adalah yang menyebabkan, sebagian besar, periode penurunan di pasar saham selama musim panas 2011.

Negara-negara Nordik mendaftarkan defisit publik yang besar setelah krisis ekonomi tahun 2008, dan pulihnya pertumbuhan masih sangat rapuh di awal musim panas 2011.

Dalam situasi yang sulit ini, banyak negara memiliki masalah mereka sendiri, seperti krisis utang Yunani dan kemungkinannya keluar dari Zona Euro, risiko kegagalan perbankan tertentu, rumor tentang utang Spanyol, pengumuman pemilu awal dan pengurangan jumlah suara. Rencana penghematan data ekonomi yang mengecewakan dari Eropa dan AS yang semakin memperburuk keadaan.

Krisis Pasar Saham China 2015

Pada tahun 2015, meskipun indeks unggulan China, CSI 3000 dari bursa saham Shanghai dan Shenzhen, mengalami peningkatan dalam lebih dari setahun, Beijing meminta jutaan penabung China untuk membeli saham China dan membiayai ekonomi, Pemegang saham kecil berinvestasi secara besar-besaran di pasar saham. Keruntuhan pertama menyebabkan keruntuhan kedua dan kemudian keruntuhan ketika yang mengakibatkan keruntuhan hebat pasar saham. Investor kecil melihat tabungan mereka runtuh.

Indeks China turun lebih dari 30% dalam beberapa minggu.

Salah satu dari konsekuensi dari runtuhnya pasar saham ini adalah penurunan di pasar saham lainnya, baik Eropa maupun AS, meskipun penurunan ini lebih kecil daripada China.

Krisis akibat COVID-19

Ini merupakan penurunan terakhir di pasar saham sampai Maret 2022. Virus baru muncul di Asia dan menyebar ke seluruh dunia, membunuh jutaan orang hanya dalam beberapa bulan.

Dihadapkan dengan risiko kesehatan yang dibawa oleh COVID-19, beberapa ekonomi di seluruh dunia menghentikan kegiatan ekonomi mereka. Di Asia, Eropa dan AS, jutaan orang kehilangan rumah mereka. Virus dan tindakan yang diambil untuk membatasi penyebarannya telah menghancurkan jutaan pekerjaan di seluruh dunia dan mengakibatkan resesi bagi ekonomi terbesar dunia.

Saat pandemi terkendali, negara-negara mulai membuka kembali ekonomi dan melanjutkan aktivitasnya, tetapi secara bertahap. Kemudian data ekonomi mulai pulih meskipun masih sangat lemah, dan sebagian besar statistik mencapai terendah.

Tahun 2020 adalah tahun yang ekstrem bagi pasar saham. Jika kita melihat lebih dekat pada variasi indeks Dow Jones, sebelum munculnya virus korona, indeks Amerika itu telah mencapai tertinggi sepanjang masa di 29.551.42 poin. Pada 16 Maret 2020, Indeks Dow Jones mengalami salah satu hari terburuk sepanjang sejarahnya turun sebesar 12.9%. Pada 23 Maret 2020, Dow Jones turun ke minimum 18,213.65 poin. Pada 31 Desember 2020, ia mencapai tertinggi tahunan sebesar 30,637.47 poin.

Setelah kejatuhan di pasar saham ini, sebagian besar pasar saham dunia kembali mencatat harga saham bersejarah di tahun 2021.

Kursus online GRATIS yang mengajarkan Anda cara trading pasar keuangan online, mulai dari pengaturan hingga eksekusi, hanya dalam 21 hari! 

Zero to Hero

Belajar trading dalam 20 hari, mulai dari persiapan hingga eksekusi

Market crash pasar saham tahun 2023

Runtuhnya pasar saham dapat terjadi akibat dari meningkatnya kerugian ekonomi karena penjualan besar-besaran di pasar saham sejak awal tahun ini, serta penurunan tajam aktivitas di hampir semua sektor ekonomi.

Selain itu, biaya bagi produsen dan perusahaan yang beroperasi di sektor seperti pariwisata telah meningkat secara signifikan akibat dari kenaikan harga minyak. Konflik antara Ukraina dan Rusia masih belum berakhir, dan oleh karena itu, penurunan harga minyak tidak akan segera terjadi, masing-masing, harga akan terus meningkat di banyak industri lain dan komoditas.

Dalam konteks ketegangan yang terus berlanjut di dunia, kita dapat berasumsi bahwa dalam waktu dekat, peningkatan volatilitas akan tetap terjadi di pasar. Selain itu, dalam beberapa minggu mendatang, awal dari kehancuran pasar saham baru dan, mungkin, awal dari depresi ekonomi baru tidak dapat dikesampingkan.

Oleh karena itu, perlu untuk mengikuti berita dan mengikuti perkembangan peristiwa geopolitik dan ekonomi di seluruh dunia untuk memahami bagaimana situasi akan berkembang dan apakah kita akan menyaksikan kehancuran pasar saham, seperti yang terjadi pada tahun 2020 akibat pandemi virus corona.

Apa yang harus dilakukan saat terjadinya stock market crash? 

Penurunan di pasar saham adalah akibat dari kepanikan dan ketakutan di pasar keuangan. Retakan di pasar ini ditandai dengan penghindaran risiko yang kuat.

Mekanisme pasar diamati selama fase kecil reguler dari penghindaran risiko secara umum sama dengan selama penurunan pasar. Selama fase-fase ini, investor mencoba untuk menjual aset berisiko untuk menguntungkan aset yang aman. Di sinilah kita memasuki ‘suasana bebas risiko’.

Umumnya investor akan mencoba menjual aset saham dan membeli obligasi pemerintah dan emas, yang dianggap sebagai sekuritas safe haven. Dengan Admirals, Anda dapat melakukan trading CFD pada indeks dan komoditas seperti emas. Ada spekulan yang menghasilkan banyak uang secara cepat dari fase kepanikan ini dengan mengikuti pola penjualan derivatif dan membeli safe haven.

Di Forex, ada juga beberapa mata uang berisiko tinggi dengan imbali hasil tinggi, lainnya dianggap safe-haven. Misalnya, AUD dan NZD memiliki imbal hasil tinggi, investor biasanya menari diri dari pasar ini selama fase berisiko dan membuka posisi di mata uang safe haven seperti JPY dan CHF.

Sebaliknya, cara yang sama akan terjadi di fase kepercayaan diri dan selera risiko.

Kesimpulan 

Bersiap menghadapi market crash pasar saham? Apakah krisis keuangan berikutnya sedang terbentuk? Apakah market crash di pasar saham ada di depan mata? Jika Anda membaca artikel ini dengan cermat, Anda tentunya paham bahwa tidak mungkin pertanyaan ini bisa dijawab. Di sisi lain, dengan mempertimbangkan semua elemen analisis ini, periode saat ini sangat volatil dan Anda harus lebih waspada dari sebelumnya. 

Tanya Jawab

Apa penyebab terjadinya market crash di pasar saham?

Runtuhnya pasar saham adalah hasil dari pecahnya gelembung ekonomi, yang pembentukannya didorong oleh banyak alasan. Setiap market crash di pasar saham disebabkan oleh masalah yang berbeda yang muncul dalam perekonomian. 

Kapankah terjadinya market crash pasar saham terakhir?

Market crash terakhir di pasar saham terjadi tahun 2020 yang diakibatkan oleh pandemi COVID-19. Langkah-langkah yang diambil untuk membatasi penyebaran virus telah mengganggu aktivitas ekonomi dan menyebabkan resesi.

 

Setelah Anda selesai membaca, lebih bagi lagi jika Anda memverifikasi apa yang telah Anda pelajari dengan berlatih. Dengan Admirals, Anda bisa berlatih strategi trading di akun demo bebas risiko. Namun, jika Anda sudah siap trading di langsung di pasar, klik banner di bawah untuk membuka akun live hari ini!

Trading Forex & CFD

Dapatkan akses ke lebih dari 40 CFD pasangan mata uang, 24/5

Artikel menarik lainnya untuk Anda:

Tentang Admirals 

Admirals adalah broker Forex dan CFD yang telah memenangkan banyak penghargaan dan diatur secara global, menawarkan trading dengan lebih dari 6.000 instrumen keuangan melalui platform trading paling populer di dunia: MetaTrader 4 dan MetaTrader 5. Mulai trading hari ini!

Materi ini tidak mengandung dan tidak boleh diartikan sebagai saran investasi, rekomendasi investasi, tawaran atau rekomendasi untuk setiap transaksi dalam instrumen keuangan. Harap dicatat bahwa analisis trading bukanlah indikator yang pasti untuk kinerja saat ini atau di masa mendatang, karena keadaan dapat berubah seiring berjalannya waktu. Sebelum membuat keputusan investasi, Anda harus mencari nasihat dari penasihat keuangan independen untuk memastikan Anda memahami risikonya.

TOP ARTIKEL
Panduan Belajar Forex Trading Untuk Pemula 2023
Forex trading untuk pemula dapat menjadi hal yang sangat sulit. Pada umumnya, hal ini karena sebagian besar trader pemula memiliki harapan yang tidak realistis terhadap pasar forex. Pertanyaan awal yang ada dibenak para pemula biasanya adalah: bagaimana cara belajar trading untuk pemula? Jangan cema...
Apa Itu CFD (Contract for Difference)?
Apa itu CFD? Contracts for Difference atau CFD Adalah jenis produk derivatif keuangan yang memungkinkan trader untuk berspekulasi pada harga suatu aset.Trading CFD memiliki hambatan masuk yang rendah dalam hal biaya dan mereka tersedia untuk trading online. Meskipun begitu, mereka bisa jadi instrume...
Cara Memilih Broker Forex Terbaik di Tahun 2023
Apakah Anda mencari broker forex dan broker CFD terbaik di tahun 2021, namun tidak yakin mengenai informasi apa yang harus Anda cari? Baik Anda seorang pemula atau trader berpengalaman, kami akan membahas semua yang perlu Anda ketahui untuk memilih broker forex terbaik untuk Anda. Dari jenis akun, i...
Tampikan Semua